Rumah Dara(h)

Shareefa Danish, Imelda Therine dan Jullie Estelle. What do you expect when knowing these three cute girls staring a movie? Cute movie? Rumah Dara(h) adalah jawaban yang paling tepat untuk mengambarkan bahwa cuteness kills. Rumah Dara berangkat dari premis sederhana dan klasik tentang sekelompok orang yang sedang dalam perjalanan menuju pulang dan ditengah jalan tiba-tiba bertemu dengan sesosok wanita yang fragile dan cantik, Maya. Maya yang mengaku habis dirampok kemudian minta untuk diantarkan pulang. It sounds familiar, right? Film ini jelas bukanlah sebuah film yang akan membuat dahi anda berkerut-kerut atau sebuah film yang membuat anda terpingkal-pingkal. Rumah Dara diciptakan untuk membuat anda menahan sekuat tenaga kemauan anda untuk mengalihkan pandangan dari layar. Jika anda adalah penikmat film-film gore macam Texas Chainsaw Massacre atau Saw, maka Rumah Dara adalah gabungan kebrutalan Hollywood dengan sentuhan misteri Asia. Dara, the mother of all fear diperankan dengan sangat memukau oleh Shareefa Danish, memang menebar aroma ketakutan sejak kemunculannya pertama kali. Keadaan menjadi semakin menyeramkan ketika adegan Dara duel dengan Alya yang diperankan oleh Julie Estelle. Rumah Dara membuat saya berkali-kali menaikkan kaki ke kursi, mengenggamnya erat-erat sambil memastikan bahwa kaki saya masih lengkap. Salah satu adegan pembuka yang saya suka sekaligus mengingatkan saya pada film Pintu Terlarang-nya Joko Anwar adalah adegan di meja makan. Adegan klasik ini makin terasa suasana klasiknya dengan backsound lagu-lagu dengan nuansa klasik Indonesia. So, what do you expect when knowing these three cute girls staring a movie? It’s not a cute movie, It’s a movie about cutting. The Mo Brothers benar-benar masa depan perfilman Indonesia.

Cerita Bagian Kedua: Ramah Tamah dan Meludah-ludah di Kampung Yensei

Tulisan ini merupakan lanjutan dari Cerita Bagian Awal.

Kampung kedua yang kami kunjungi di Distrik Wamesa, Kabupaten Teluk Bintuni Papua Barat adalah Kampung Yensei. Dari Kampung Idoor, perjalanan ke Yensei memakan waktu sekitar lima jam menggunakan long boat melewati daerah aliran sungai, muara dan rawa-rawa. Perjalanan dilakukan pagi-pagi untuk menghindari surutnya air muara, karena satu-satunya akses masuk ke Kampung Yensei adalah melalui aliran sungai yang sempit yang hanya dapat dilewati dari Kampung Idoor dengan cara memutar di daerah muara dan mengambil arah kanan (sepertinya petunjuk ini percuma saja hehe). Dan akhirnya dari kejauhan Jetty (dermaga kecil) Yensei terlihat. Lanjutkan membaca ‘Cerita Bagian Kedua: Ramah Tamah dan Meludah-ludah di Kampung Yensei’

Donor Darah: A drop of your blood means a lot.

Pernahkah terpikir bahwa anda bisa menyelematkan nyawa seseorang dengan darah anda? Kalau anda sepakat dengan sunnah Nabi yang mengatakan sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain, maka mendonorkan darah mungkin adalah satu dari sekian banyak cara menjadi manusia yang bermanfaat tersebut. Saya pribadi sebenarnya sudah lama tertarik ingin mendonorkan darah. Namun, perasaan yang sering muncul kala itu (yang kemudian menggugurkan niat saya) adalah TAKUT. Membayangkan jarum suntik menusuk pergelangan tangan kita, melihat darah yang disedot keluar melalui selang, dan segala macam ketakutan lainnya. Ya, saya pun dulu demikian. Lanjutkan membaca ‘Donor Darah: A drop of your blood means a lot.’

Arogansi

 

Mobil itu mendekat ke arah kami yang sedang duduk-duduk di rumput selepas makan siang. Sebuah BMW putih. Nampak ia sedang mengukur jarak dan berusaha mengepaskan mobilnya. Kaca mobilnya ditutup. Sejenak mobil itu berhenti. Pintunya membuka sedikit. Kemudian sebuah kaki mulus bersepatu hak tinggi meluncur di balik pintu mobil yang dibuka sedikit, diarahkan ke arah gelas dan piring yang berada di samping mobilnya. Brakkk…!!! Bingung atas apa yang sebenarnya dia inginkan, saya dan beberapa teman pun sontak berdiri. Kali ini pintu mobil kembali ia tutup. Mobil itu kemudian kembali seolah-olah hendak mengukur jarak. Meng-agak-agak. Entah apa yang sedang diingini si pemilik mobil. Kali ini ia menggas mobilnya menuju dua buah motor yang sedang parkir. Dan dua motor malang itu pun ambruk. Kaget, teman saya langsung berlari ke arah motor dan segera mendirikan lagi motor yang sudah terjerembab ke semen tersebut. Pintu dan kaca mobil tetap tertutup. Hingga kemudian sosok itu keluar. Seorang perempuan berumur 30-an, rambut panjang sebahu yang dicat agak pirang, kaca mata mahal mantap menghias matanya. Dengan tenang ia keluar dan berkata:

Mas, itu motornya ya?

Ga buk. Itu motor karyawan di dalam.

Oh, begitu. Sorry ya. Sudah lama kantor saya dibikin kotor oleh warung itu. Termasuk rumput yang mas injak itu. Saya keluar uang mahal untuk bersihin semua.

Ia kemudian terus berlalu, masuk ke dalam kantor.

Saya hanya terdiam. Tak menyangka bahwa kejadian tadi terjadi di Jogja. Di lingkungan kampus UGM. Di Pusat Studi “Dasar Negara” dan dilakukan oleh seorang perempuan bertampang intelek, modern dan beradab.

Lanjutkan membaca ‘Arogansi’

Halaman Berikutnya »